Home » Senior Secondary School » News » AKU MERASAKAN, AKU BELAJAR, DAN AKU BERUBAH
AKU MERASAKAN, AKU BELAJAR, DAN AKU BERUBAH 

AKU MERASAKAN, AKU BELAJAR, DAN AKU BERUBAH

Pendidikan karakter adalah sesuatu yang sangat penting di era globalisasi saat ini, dan sekolah merupakan salah satu lembaga yang bertanggung jawab untuk menciptakan lulusan dengan karakter yang mulia. Live in adalah salah satu bentuk kegiatan pembentukan karakter siswa SMA Pahoa. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa kelas XI dari jurusan IPA, IPS, dan Bahasa dengan tujuan menerapkan nilai-nilai dizigui yang telah diajarkan di sekolah ke dalam kehidupan nyata sehari-hari. Bukan hanya sekadar berbagi akan tetapi mereka juga belajar dari kehidupan masyarakat yang ada.

Kegiatan dengan tema "Membangun Solidaritas Lewat Kehidupan Nyata" ini dilaksanakan pada tanggal 1-4 November 2016 di Desa Pelem Dukuh, Kulonprogo Yogyakarta. Di desa ini mereka dibagi ke dalam 8 dukuh dengan jarak yang berjauhan, tempat setiap harinya mereka mengikuti kegiatan orangtua asuh masing-masing. Hal ini menyebabkan beragamnya pengalaman yang mereka dapatkan selama mengikuti kegiatan live in.

"Saya belajar bersyukur dan menghargai hidup karena saat tiba di sana saya sangat terkejut melihat kondisi keluarga yang saya tempati. Listrik, peralatan elektronik pun minim, jauh berbeda dengan tempat tinggal saya. Awalnya saya berpikir bahwa di desa itu keadaannya kumuh dan berantakan, tetapi justru saya melihat di keluarga ini walaupun sederhana tapi selalu rapi dan bersih. Dari hal ini saya belajar untuk tidak memandang rendah orang lain. Saya dan teman-teman satu dukuh juga menjadi lebih kompak dalam bergotong royong," ungkap Edbert siswa kelas 11 IPA 2 yang mendapatkan tempat yang paling jauh dan paling sulit dijangkau yaitu dukuh Paulus Promasan.

Sementara Fransisca (11 Bahasa) menuturkan bahwa keramahan dan kehangatan keluarga sangat terlihat dari sikap keluarga yang dia tempati, bagaimana masing-masing anggota keluarga bisa saling menghargai. Hal senada juga diungkapkan oleh Phelia (11 IPS 1) yang dari pengalamannya disimpulkannya bahwa bahagia itu sederhana, sesederhana makan bersama keluarga dan melihat mereka tertawa. Pengalaman yang berbeda dirasakan oleh Kezya Benita (11 IPA 3) yang tinggal di rumah Bapak Tukiyo dengan mata pencaharian sebagai peternak dan petani.

"Dengan kehidupan yang sederhana," kata Kezia, "keluarga Bapak Tukiyo merupakan keluarga yang rukun. Saya dan teman saya mengikuti rangkaian keseharian mereka, seperti bangun subuh untuk ke pasar, mencari rumput di tengah hutan, memerah susu kambing, menjemput anaknya di sekolah, menjaga warung, memasak, dan lain sebagainya. Ketika saya melihat dalam kehidupan saya sehari-hari, sungguh berbeda dengan apa yang saya rasakan disana. Dengan kesederhanaan mereka, mereka bahagia."

"Hal inilah," tutur Keiza lebih lanjut, "yang akhirnya saya bawa pulang ke rumah. Saya belajar banyak, belajar melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang, tidak mengeluh walau banyak masalah, dan juga belajar bahwa merajut tali persaudaraan adalah hal yang penting, bukan hanya dalam keluarga tetapi juga dengan sesama yang ada di sekitar kita. Setelah acara live in tersebut selesai, saya merasakan perubahan. Keluhan mulai jarang terlontar dari mulut saya, saya menjadi lebih ramah kepada orang sekitar, dan juga lebih peka terhadap lingkungan. "

Banyak pengalaman yang mereka dapatkan selama live in. Semoga apa yang mereka dapatkan bisa menjadi pelajaran hidup yang selalu diingat dan mampu mengubah karakter mereka. Dengan merasakan maka aku belajar, dengan belajar maka aku berubah menjadi lebih baik. (Rissa A. Agustina-Panitia Live In SMA PAHOA 2016).

© PAHOA 2010 All Right Reserved . powered by Menaravisi